You are currently browsing the category archive for the 'early knowledge' category.

Sejak dini pula anak-anak harus diajarkan mandiri: memakai baju sendiri, gosok gigi sendiri hingga melakukan ibadah dengan baik. Jika Anda adalah orang tua yang merasa gemas melihat mobil di depan Anda membuang tisu atau botol minuman ke jalan, mungkin inilah saatnya Anda menerapkan disiplin kepada anak sendiri tentang membuang sampah pada tempatnya. Tunjukkan juga bahwa ada hal lain yang lebih mendasar dari sekadar membuang sampah di tempatnya. Tunjukkan bahwa sampah yang bertebaran selain tidak enak dipandang, juga bisa membawa penyakit. Nyamuk atau lalat bisa bersarang di sana… atau tunjukkan hal positif tentang pengelolaan sampah yang benar di lingkungan Anda. Ada beberapa buku Seri Aku Bisa (Cerita Mio Balita) yang bisa menjadi teman Anda bercerita ke anak tentang disiplin dan sikap mandiri mereka.

Seri Aku Bisa dan Aku Belajar – Harga Toko @ Rp7.900,-

HARGA INIBUKU DISKON 15% Rp 6.715,-

Buku karya Eka Wardhana, Iwan Yuswandi

  1. Aku Bisa Mandi Sendiri (Cerita Mio Balita)
  2. Aku Bisa Shalat dan Berdoa (Cerita Mio Balita)
  3. Aku Bisa Pakai Baju Sendiri (Cerita Mio Balita)
  4. Aku Bisa Merapikan Tempat Tidur Sendiri (Cerita Mio Balita)
  5. Aku Bisa Merapikan Mainan Sendiri (Cerita Mio Balita)
  6. Aku Bisa Makan Sendiri (Cerita Mio Balita) 

Buku karya Ali Muakhir, Ade Prihatna

  1. Aku Belajar Buang Sampah (Cerita Mio Balita)
  2. Aku Bisa Berwudhu (Cerita Mio Balita)
  3. Aku Bisa Pakai Sepatu (Cerita Mio Balita)

Sejak dini anak harus tahu bagaimana mengelola uang dengan bijak. Diawali sejak anak diberi uang saku, misalnya, di hari pertama ia masuk ke sekolah dasar. Perlukah anak diberi uang saku? Seberapa besar? Ataukah ada cara lain yang lebih bijak. Di bawah ini ada kutipan tulisan Safir Senduk yang pernah dimuat di Tabloid Nova edisi nomor 938/XVIII.

BAGAIMANA MELATIHNYA?
Pertama-tama, yang diinginkan orangtua tentu saja agar anaknya tidak boros dalam mengelola uang saku. Tapi, seringkali hal itu nggak bisa langsung terjadi karena bisa saja untuk minggu-minggu pertama anak Anda mungkin akan boros. Biasa, bisa jadi dia kaget karena baru pertama kali dikasih uang untuk dikelola secara harian. Tapi ingat, kadang boros bisa menjadi sarana yang baik untuk anak belajar. Karena pengalaman yang dialami sendiri oleh si anak biasanya akan lebih tertanam di hati anak dibanding kata-kata yang Anda berikan. Betul, bukan?

Sekarang, bagaimana cara melatih anak agar tidak boros?

“Ajarkan membuat prioritas”

Anak perlu diajar untuk membelanjakan uang saku menurut prioritasnya, Apa sih prioritas dalam penggunaan uang saku? Jelas, untuk membayar transportasi, dan makan selama di sekolah. Buku (di luar buku sekolah) dan mainan bisa menyusul. Dengan mengajarkan anak apa yang menjadi prioritas, maka bisa diharapkan sampai dewasa nanti si anak akan terus mendahulukan apa yang menjadi prioritas untuk dibelanjakan.

“Ajarkan anak bedanya butuh dan ingin”

Coba juga mengajarkan anak agar ia bisa membedakan mana barang-barang yang benar-benar dia butuhkan untuk dia beli terlebih dahulu, dan mana barang-barang yang sebetulnya hanya diinginkan, untuk bisa dia beli atau ditunda kalau memang belum terlalu butuh. Memang, mengajarkan anak tentang perbedaan antara butuh dan ingin sama sekali tak gampang. Tapi kalau Anda bisa berhasil, wah, sampai dewasa pasti anak Anda bisa dengan mudah membedakan mana yang butuh dan mana yang ingin.

“Beritahu bahwa uang saku tidak selalu harus dihabiskan”

Ya, kasih tahu juga sama anak bahwa yang namanya uang saku tidak selalu harus dihabiskan. Ada saatnya uang saku harus ditabung. Pertama-tama, Anda bisa mengajarkan si anak untuk memakai celengan. Setelah jumlahnya agak banyak, uang itu bisa dipindahkan ke tabungan di bank. Yang penting, ajarkan anak untuk selalu berpikir bahwa uang saku tidak harus selalu dihabiskan.

(lebih lengkap, silakan klik pranala situs Safir Senduk di www.perencankeuangan.com di sini)