You are currently browsing the category archive for the 'dyslexia' category.

gemd_02_img0088.jpg

Saya guru kelas empat dengan seorang anak yang berusaha keras sekali. Dia dan ibunya berusaha membaca 10 kata setiap minggu. Dia bisa mendapatkan 8 dari 10 secara baik. Dia biasanya mendapatkan huruf tepat untuk kata tertentu, tapi tidak dalam urutan benar (misalnya, “pohon” menjadi “ponoh”). Dia telah diuji dan hasilnya menunjukkan ketidakmampuan belajar. Fasilitator ujian itu merasa bahwa anak ini hanya menebak untuk itu ia menghentikan ujian itu. Ia membaca seperti anak kelas 1, bisa matematika tapi harus bertarung untuk membaca. Dia juga mendapatkan kesulitan dengan pengalian (angka). Saya ingin membantunya, dan begitu pula keluarganya. Apakah ia disleksik?

JAWAB: kesulitannya dengan pengucapan “berloncat”, masalah kata-kata dan kemampuan mengurut dalam perkalian adalah indikator kuat anak itu disleksik. Sebaiknya hubungi psikolog profesional untuk memastikan. (John Bradford)

Megan (USA)

Saya didiagnosis disleksik di kelas 1 setelah mendapatkan 180 dalam tes IQ dan tidak dapat membaca. Saya akhirnya harus menghabiskan waktu di sekolah untuk kelas khusus belajar. Saya dinyatakan spesial tapi pada umur 9 setiap anak ingin menjadi orang bisa dan tak ingin menjadi spesial, saya membenci kata itu hari ini. Saya adalah anak yang tak pernah mengikuti pentunjuk bukan karena saya tak mendengarkan tapi karena saya tidak mengerti apa yang ditanyakan.

Bertahun-tahun saya belajar untuk mengikat sepatu dan ibu saya selalu meletakkan sepatu kiri saya sehingga saya bisa mengerti mana sepatu kiri dari kanan. Saya ke kamar mandi setiap hari saat harus membaca keras di kelas, saya mengambil ujian lisan dan harus meminta orang lain membacakan soal ujian. Saya bisa matematika tapi tak bisa mendapatkan kata-kata yang tepat untuk menyelamatkan diri saya.

Hari ini usia saya 26 dan tetap membaca seperti kelas 5. Saya kuliah karena mendapatkan beasiswa sepakbola. Jika saya mendapatkan nilai A adalah mata kuliah Logic, apa lagi? Saya belajar dengan gaya saya dan bisa lulus kuliah satu semester lebih awal dari yang lain. Saya tak dapat melanjutkan ke S2 karena tidak dapat meyakinkan guru bahwa saya perlu pembaca untuk membantu ujian saya. Guru itu dipecat dan saya lulus dengan cepat. Ibu saya berpikir bahwa saya akan menjadi guru hebat karena saya telah mengalahkan sistem yang ada, tapi jujur saya pikir bahwa lebih baik menjadi guru yang bisa membaca dan berbicara dengan baik.

Sekarang saya adalah pekerja sosial, dan senang menolong orang seperti yang telah dilakukan guru-guru saya dulu. Hidup saya lebih mudah daripada sekolah. Saya dapat mengubah huruf, dan ucapan saya tetap payah. Namun saya belajar mengikat tali sepatu, dan tak perlu mana sepatu kiri mana kanan. Saya tak peduli membaca keras-keras selama tak ada orang yang mendengarkan.

new_dyslexia_passage_sm.jpg

Maria (Irlandia)

Saya berusia 17 tahun dan saat berumur 7 saya mengetahui saya disleksik. Saya tak tahu artinya tapi itu berarti “lain” dari orang lain. Waktu saya di kelas 5, ketakutan utama saya adalah membaca. Saya bukan pembaca buruk tapi sekarang masih takut ditertawai. Saya masih punya waktu setahun lagi di sekolah ini, dan saya takut karena saya tahu tak punya apa-apa.

Jenna (Canada)

Putri saya harus duduk di kelas satu selama dua tahun. Dia tak dapat belajar membaca. Saya membawanya ke dokter mata, dokter THT dan spesialis anak lainnya. Kita tak dapat mengerti masalah yang ada sampai akhirnya saya mengetahui dari keluarga bahwa putri saya mengalami ketidakmampuan belajar, dan ia harus dites apakah disleksik. Hasilnya, dia mengalami disleksia.

Dengan pertolongan beberapa guru yang peduli dan juga saya, dia mengikut terapi SMT disleksia. Saya harus akui terapi ini bagus sekali: putri saya dapat membaca dalam setahun dan sekarang sudah masuk kelas tiga tanpa bantuan siapa-siapa. Prestasinya masih berada di belakang siswa lain, dan saya memahami bahwa akan semakin berat baginya tapi dia bisa melakukannya atas kehendaknya.

Robert

Robert berusia 11 saat mempelajari perbudakan untuk tugas sejarah. Dia mengalami disleksia berat dan sulit menulis, dan membaca adalah tugas menyulitkan. Namun ia menyukai diskusi di kelas dan menonton video. Jika disuruh ke perpustakaan, dia langsung mundur karena semua buku mengharuskan kemampuan membaca.

Dia kemudian menemukan cara membaca dengan menggunakan indeks. Saat ia mengurut secara alfabetis, dan menemukan topik yang disukai, ia mencatat halamannya dan mencari datanya. Dia bisa kehilangan alasan utama mengapa ia berada di perpustakaan. Gurunya selalu memperlihatkan materi CD ROM dan multimedia lain. Dia harus pergi ke museum sejarah perbudakan dan menemukan artikel yang diinginkannya. Dia memberi tanda dan memindainya ke dalam komputer.  Dia mendengarkan segala informasi dan menentukan apa yang ia ingin simpan dan buang. Dia menghabiskan waktunya mengedit dokumen dan membuat tugas yang penuh detail yang menandakan dia sangat antusias dan berpengetahuan.

Liz (UK)

Liz tidak dapat membaca saat bertemu saya. Gerak tubuhnya menandakan depresi anak usia tujuh tahun. Dia mulai berputar di kelas daripada mengerjakan tugas kelasnya. Orang tuanya juga tak mengerti mengapa ia selalu begitu. Seluruh keluarganya normal secara IQ tapi Liz seperti tak pernah diam.

Saat saya berbicara dengannya dia menyatakan menyukai seni dan lukisan dan pendidikan fisik, tapi ia selalu bermasalah di sekolah. Dia membenci hari Jumat saat ada kelas membaca dan mengeja kata.

Setelah beberapa kali menemui saya, saya melihat betapa resah dirinya dan saya tanya apa yang baru ia makan. “Tak ada,” jawabnya, “saya baru minum jus jeruk dan apel.” Saya bicara ke ibunya tentang diet Liz. Ibunya merasa bahwa tak ada salahnya memberikan jus jeruk murni. Saat Liz mengubah pola minumannya, perubahannya lumayan besar. Setidaknya ia lebih kalem di sekolah dan bisa membaca dalam waktu 4 bulan. Dia bukan disleksia, tapi seorang anak yang hanya alergi terhadap makanan dan minuman tertentu. Ada berapa banyak anak yang seperti dirinya?

Gina (USA)

Putri saya mengalami disleksia. Dia lulus tahun 2001, tapi harus bertarung terus selama sekolah. Sesekali ia ingin mundur, tapi saya selalu meyakinkan dirinya bahwa ia telah berusaha sejauh ini. Sekarang ia ingin melanjutkan ke jurusan ekonomi dan telah mampu mengatasi kesulitan membacanya.

disleksia2.jpg

disleksia.jpg   < edisi bahasa Inggris & Indonesia >  disleksia1.jpg

Kode buku: Q02LWEI01
Judul: Living with Dyslexia
Pengarang: Lissa Weinstein, PhD
Penerbit: Qanita (Mizan Group)
Harga toko: Rp 56.000,- (diskon 15%) = Rp 47.600,-

Deskripsi:
Aku tidak pernah ikut menyanyi. Aku tidak bisa mengingat kata-katanya, dan aku tidak bisa mengucapkan kata-kata itu dengan cepat. Kadang-kadang aku hanya menggerak-gerakkan mulut. Aku akan pura-pura atau menyanyi sedikit kalau aku ingat. Kalau aku berbuat salah, tidak akan ada yang tahu

… Bagiku, huruf-huruf itu sama sekali tidak masuk akal. Mengenali huruf-huruf itu saja aku tidak bisa. Semuanya hanya kelihatan seperti garis lekuk-lekuk yang tidak ada artinya.”
-David, 7 tahun.

Akulah ibunya. Akan kulakukan semuanya untuk membantu David.

Seandainya aku bisa “mengerti” dyslexia (disleksia), mungkin aku bisa menyingkirkannya dari David. Saat David sakit selagi masih bayi, biasanya aku menciumnya, berharap penyakitnya akan pindah ke tubuhku yang lebih kuat.

Bagi orang lain, susah sekali memahami apa yang dikatakan David. Kurasa, kesulitan itu membuatnya frustrasi. Disleksia memengaruhi bagaimana perasaan David tentang dirinya sendiri, bagaimana interaksinya dengan orang lain, bagaimana dia mengelola amarahnya, dan bagaimana dia menentukan minatnya.

Aku tahu, banyak tokoh yang dulunya menyandang disleksia kini termasyhur:
- Albert Einstein,
- Muhammad Ali,
- Keanu Reeves,
- Tom Cruise,
- Robin Williams,
- Whoopi Goldberg.

Dan aku akan membantu David menjadi besar seperti mereka.

***

“Bacaan yang memukau dan informatif…bagi orangtua dan guru yang ingin mengubah stigma anak dengan label menyandang kesulitan membaca.”
-Jane M. Healy, Ph.D., penulis buku Your Child’s Growing Mind: A Guide to Brain Development and Learning from Birth to Adolescence.

“Living with Dyslexia sangat memilukan namun membangkitkan semangat. Ibu dan putra berhasil menulis sebuah kisah yang tajam dan menggugah tentang bagaimana disleksia memengaruhi keluarga.”
-Barbara Corcoran, penulis buku Use What You’ve Got & Other Business Lessons I Learned from My Mom, ketua The Corcoran Group